Kamis, 09 Desember 2010

Hinata's Upside Down Life (chapter 1)

.
.
.
"Maaf", bisik Hinata.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu Hinata", kata Sasuke.
"Maaf", ucap Hinata. Sedikit lebih kuat dan tegas kali ini.
"Maaf? Untuk apa?", tanya Sasuke.
"Aku bukan mengucapkan kata maaf untukmu. Tapi aku ingin kata maaf keluar dari mulutmu", jawab Hinata.
Sasuke terkejut. Ini pertama kalinya Hinata begitu tegas mengenai pendapatnya. Mereka tenggelam dalam diam. Hanya angin yang berhembus saling berbisik di telinga mereka.
"Ucapkan maaf pada yang satu, dan utarakan cinta pada yang lain", lanjut Hinata saat Sasuke tidak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaan Hinata.
"Jika kamu bisa memilih, kamu ingin aku mengatakan apa padamu? Maaf atau cinta?", tanya Sasuke.
"Cukup Sasuke", teriak Hinata.
Mundur satu langkah untuk sedikit melebarkan jarak agar dia tidak menghirup terlalu banyak udara yang ada pada Sasuke. Ya, Sasuke adalah udara yang dia hirup. Dan masalah ini membuatnya semakin gila. Bagaimana mungkin kau bisa hidup tanpa udara yang bisa kau hirup?
Sesaat melihat ke tanah yang mulai basah oleh air matanya, Hinata memberanikan diri untuk melihat ke dalam mata Sasuke.
"Kenapa hidupku harus seperti ini?", tanya Hinata.
Mencoba mencari jawaban di mata Sasuke. Tapi yang dia dapat bukanlah jawaban. Perasaan bersalah. Itulah yang Hinata temukan di sana. Meskipun sebenarnya ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Sasuke. Namun kenapa hati ini begitu sakit saat Sasuke ada di hadapannya.
Sasuke yang mendengar pertanyaan Hinata, tidak mampu menjawab seperti biasa. Baginya, ini pertanyaan tersulit yang pernah diberikan Hinata kepadanya. Tentu saja dia tidak mampu menjawabnya. Entah siapa yang harus disalahkan atas apa yang terjadi pada Hinata. Tidak sampai dalam kurun waktu setahun, hidup gadis ini benar-benar jungkir balik. Dan dia tahu pasti sejak kapan itu semua dimulai.
Namun tidak ada yang bisa dirubah. Kisahnya hanya bisa diceritakan. Dan Hinata ingat, hanya kepada 2 Uchiha saja dia pernah menceritakannya. Salah satunya adalah Uchiha yang ada di hadapannya. Uchiha yang mungkin saja, akan berpengaruh besar di kehidupan Hinata selanjutnya. Apakah semakin baik, atau bahkan semakin buruk?
Merasa gravitasi semakin kuat menariknya, Hinata merasa kehilangan kekuatan. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap saat dia merasakan tubuhnya membentur tanah. Saat itu juga, memori kembali berputar di otaknya seperti siaran ulang pertandingan sepak bola. Mimpi buruk pun kembali menghantuinya.
.
.
.
Matahari mulai masuk ke celah-celah jendela kamar. Sinarnya juga sudah mulai menyilaukan mata dan memaksa untuk bangkit dari tempat yang paling nyaman ini. Mau tidak mau si pemilik kamar harus segera bangun dari ranjangnya. Bukan karena sinar matahari yg semakin silau untuk dipandang. Tapi karena kewajiban yang harus dilaksanakan.
Mengingat dia masih duduk di bangku sekolah dan harus bergegas agar tidak terlambat. Dan ada satu hal lagi yang dia anggap penting untuk dilakukan di pagi hari ini. Tapi dia menganggap bahwa ini lebih merupakan sebuah kesenangan daripada kewajiban. Membuatkan sarapan untuk ayah tercinta.
Keluarga Hyuga merupakan keluarga yang kaya raya. Untuk itu mereka pasti punya banyak pelayan yang mampu menyiapkan sarapan. Tapi sang ayah hanya suka dengan sarapan buatan anaknya. Ini mengingatkannya dengan masakan istrinya yang telah lama meninggal saat melahirkan anak kedua mereka. Tapi sayang anak kedua terlalu lemah dan akhirnya meninggal juga seminggu kemudian.
Kini Hinata hanya tinggal berdua dengan ayahnya di rumah yang sangat besar bak istana ini. Terkadang ayahnya sering bercanda tentang Hinata yang harus punya banyak anak setelah menikah nanti. Untuk meramaikan rumah mereka tentunya. Ini tak jarang membuat wajah Hinata memerah karena malu mendengar candaan ayahnya.
Pagi ini juga tak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Setelah bangun Hinata langsung menuju kamar mandi untuk berendam air hangat di bathtub. Ini penting untuk mengawali hari yang mungkin saja bisa menjadi hari yang melelahkan. Setelah itu Hinata segera berpakaian. Seragam dengan kemeja putih tangan panjang dan rok selutut. Juga ada dasi berbentuk pita dan blazer yang menutupi kemejanya.
Untuk urusan rambut, Hinata tidak pernah ambil pusing. Setiap hari dandanan rambutnya selalu seperti ini. Rambut gelapnya yang panjang disanggul. Poninya yang lebih panjang di samping kanan dan kiri dari poni di dahinya dibiarkan tergerai. Walau Hinata merasa dandanan rambutnya biasa saja, tapi bagi beberapa orang itu membuatnya lebih imut.
Hinata tidak pernah menggerai rambutnya karena dia menjadi terlihat mirip dengan ibunya. Ayahnya lah yang mengatakan hal seperti itu. Baginya cukup masakannya sajalah yang membuat ayahnya membandingkannya dengan ibunya. Hinata tidak marah jika dibanding-bandingkan seperti itu, justru dia sedih jika melihat ayahnya yang sedang mengingat ibunya. Dia benar-benar terpukul karena kehilangan wanita yang dia cintai.
Tanpa memakai make up dan hanya memakai parfum seadanya, Hinata mengambil tasnya menuju dapur untuk membuat sarapan. Hinata memang tidak suka pakai make up. Dia merasa itu membuatnya menjadi orang lain. Toh Hinata tetap terlihat cantik walau tanpa make up.
Setelah sarapan selesai dibuat dan disajikan di atas meja, Hiashi sudah duduk untuk menikmati sarapannya.
"Pagi yah", sapa Hinata ramah.
"Pagi putriku yang cantik", balas Hiashi dengan nada sedikit menggoda yang membuat Hinata jadi merona mendengarnya.
Mereka pun makan dengan membicarakan hal-hal yang ringan dan sekali-sekali mereka tertawa jika ada hal yang lucu.
HONK HONK.
Tak lama setelah sarapan, terdengar bunyi klakson motor dari luar rumah.
"Itu pasti Naruto. Aku pergi sekolah dulu ya yah", Hinata pamit pada ayahnya.
"Ya, hati-hati di jalan. Katakan pada pacarmu jangan ngebut-ngebut jika membawa anak gadis ku", kata Hiashi sambil sedikit tertawa.
"Baik ayah", lagi-lagi Hinata merona sebelum beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Naruto yang menjemputnya untuk pergi ke sekolah bersama.
Hiashi juga harus berangkat kerja ke kerajaan bisnis warisan turun temurun keluarga Hyuga. Berhubung Hinata adalah anak semata wayang, maka Hinata akan menjadi pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Hyuga. Namun Hiashi tidak ingin memaksa anaknya untuk terjun langsung. Dia membiarkan putrinya untuk menikmati masa remajanya dulu. Dia juga masih merasa cukup sehat dan kuat untuk menjalankan usaha ini.
Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju ke kelas. Mereka berdua sering mendapat perhatian dari siswa-siswa lain. Tak jarang juga ada julukan-julukan yang diberikan untuk mereka. The Cute Couple, Couple of The Year, The King and The Queen, dan lain-lain. Maklum saja. Naruto adalah ketua OSIS di sekolah mereka. Hinata juga aktif di klub basket, yang merupakan olahraga favoritnya.
Hubungan mereka telah berjalan hampir 2 tahun. Dan banyak yang berharap, mereka akan jadi pasangan yang langgeng. Tapi, siapa yang tau apa yang akan terjadi di masa depan.
"Aku antar sampai sini saja ya. Aku mau ke ruang OSIS sebentar", kata Naruto sesampainya di depan kelas Hinata.
"Oke. Sampai jumpa saat makan siang ya", kata Hinata.
"Ya", jawab Naruto singkat sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju ruang OSIS.
"Ehem. Makin mesra aja ni", Hinata dikejutkan oleh suara yang datang dari sahabatnya Temari.
"Apa seperti itu ucapan selamat pagi untuk sahabatmu?", tanya Hinata sambil berkecak pinggang.
"Habisnya kata-kata itu yang selalu membuatmu merona merah", jawab Temari dengan nada menggoda.
"Lama-lama aku bosan. Setiap pagi kau mengatakan hal yang sama", balas Hinata.
"Tidak masalah kalau kau bosan dengan kata-kata ku. Yang jadi masalah kalau kau bosan dengan Naruto", sambung Temari.
Mereka berdua tertawa bersama saat mendengar pernyataan Temari. Sebenarnya Hinata bukanlah gadis yang populer. Dia tipe pemalu yang canggung dengan perhatian orang-orang. Dia juga tidak terlalu pintar bergaul. Saat Naruto menjadi pacarnya, Naruto lah yang banyak mengenalkan orang lain pada Hinata. Namun, menjadi pacar dari siswa yang paling berpengaruh di sekolah pastilah menuai banyak perhatian dari orang-orang. Bagi Hinata, selama Naruto ada di sampingnya, semua pasti akan baik-baik saja. Semoga saja.
.
.

1 komentar:

  1. Background naruto nya membuat tulisannya ga bisa di baca.. Tolong ganti yaa background nya.. Atau warna tulisannya menjadi lebih terang

    BalasHapus